Oleh Akhlis Suryapati

Beredarnya video joget-joget sejumlah selebritas dan pejabat pemerintah di ajang Festival Film Cannes (Festival International du Film), mengundang sentimen negatif. Itu laksana flexing borjuis yang terpisah dengan realitas sosial budaya perfilman di Indonesia. Unggahan ringan itu bukannya menunjukkan kehebatan film Indonesia di mata dunia, tetapi sebagai pernyataan yang kontraproduktif untuk bangsanya sendiri. Seperti pernah dilakukan Eko Patrio Bersama teman-temannya di DPR RI,  berjoget-joget merayakan kemewahan fasilitas dengan sound horeg, menjadi paradoks sebagai representasi peranserta Masyarakat.

Begitulajh media sosial. Tentu saja, ada yang memuji tampilan video tersebut – malahan ada yang menyarankan akun-akun yang mengkritik dilaporkan saja ke polisi biar tidak asal nyocot.

Jika berbicara tentang selebriti, mereka memiliki kepentingan dalam kapitalisme, dan kita harus sangat berhati-hati untuk tidak terlalu banyak berinvestasi dalam hubungan parasosial yang kita miliki dengan mereka, tulis sebuah akun.

Persoalannya, ada anggapan dan klaim, mereka yang joget-joget itu adalah duta atau delegasi resmi Indonesia, keberangkatan ke Cannes difasilitas dengan uang rakyat melalui APBN. Makanya perbuatan itu dianggap sebagai kurang  menyenangkan, tidak memiliki sensivitas sosial. Atraksi yang disebarkan melalui video klip itu, kepleset menjadi pencitraan elitis yang kontra simpati, alih-alih memberi kebanggaan atas kehadiran Film Indonesia di kancah festival internasional.

Peristiwa itu juga menjadi ironi, di tengah riuh percakapan film Pesta Babi yang diobrak-obrak dalam beberapa pertunjukan dan diskusinya, karena dinilai provokatif dan subversive. Sama-sama di dalam — apa yang disebut — Perfilman Nasional, namun terhampar kesenjangan perspektif dan perlakuan. Kata lainnya, adanya ekosistem yang tidak kondusif.

Sesungguhnya juga, adegan itu,  merupakan ironi dari sebuah foya-foya manakala dikaitkan dengan kebijakan efisiensi politik anggaran negara serta slogan ideologi penyelenggaraan perfilman nasional .

Sementara dalam kasus Pesta Babi, oleh kekuasaan dicurigai sebagai perpanjangan kepentingan antek asing.  Seorang petinggi tentara mempertanyakan.  “Duitnya dari mana bisa membuat film itu?”

Festival Film Cannes berlangsung sejak 1946, kita sering melihat dan mengunjunginya. Dalam hal flexing semacam joget-joget itu,  memang begitulah yang selalu berlangsung. Bedanya, sekarang ada entitas bernama Netizen, kritis dan cerewet, dengan narasi yang kadang belepotan namun substansinya relevan.

Tradisi membanggakan kehadiran di Cannes , menjadi berbenturan dengan  harapan masyarakat – termasuk masyarakat perfilman yang berhak untuk meresensi. Kita simak, jika harapannya atau targetnya Palme d’Or,  rasanya belum pernah kebagian. Kalau untuk mempromosikan Film Indonesia nggak kelihatan ngefeknya. Kalau mendorong industri film di bursa Eropa – atau internasional – walhasilnya  hampa begitu saja. Ada beberapa berita muncul, misalnya penghargaan yang diterima film pendek Vaterland or A Bule Named Yanto  dalam La Semaine de la Critique (Cannes Critics’ Week) . Tetapi itu kan segmen acara pendukung disediakan sebagai ruang apresiasi. Seperti zaman dulu jika ada gelaran FFI, acara utamanya kompetisi dan penghargaan Piala Citra, di acara pendukung ada pekan film pendek, kompetisi film eksperiment,  lomba akting dan mirip bintang, serta lain sebagainya,  

Dalam Festival Film Cannes,  acara utamanya adalah kompetisi dan penghargaan Palme d’Or, industrinya berupa  Marche du Film   –  bursa film – sedang pendukungnya ada penyediaan ajang promosi dengan menyewa teater pertunjukan seraya gelaran red carpet. Ada pernah seorang artis Indonesia ikut dalam red carpet, tetapi karena dia model sabun merek lux yang waktu itu ikut menjadi sponsor. Bukan karena delegasi festival.

Dalam Marche du Film, sejauh initransaksi yang berlangsung, oleh Rumah Produksi yang membuka booth di sana dengan lebih banyak membeli film-film asing untuk dipasarkan di Indonesia ketimbang berhasil menjual film-film Indonesia kepada negara-negara sono.

Pernah Kementerian Parekraf memberangkatkan enam anak muda pembuat film pendek – hasil seleksi dari Festival Bulanan — saban harinya nongkrong di booth sambil muter filmnya di monitor televisi LED. Saya bertanya, adakah yang mampir dan nanya-nanya untuk membeli film?  Mereka menjawab: Ya nggak ada lah, Mas. Tetapi saya senang dan bangga dikirim ke sini. Nambah pengalaman!

Ada pun para delegasi Indonesia,  dalam sekian kali persitiwa, sesekali nampak di deretan kursi acara pembukaan – yang berupa pidato-pidato dilanjutkan dengan pemutaran film pembuka,  namun kadang tidak nampak pula. Mereka muncul seperti pengunjung yang lain, melihat-lihat bursa film.Pada suatu malam tertentu berlangsung Indonesian Night  – menyewa gedung jauh dari arena festival, di sana digelar seni pertunjukan dan jamuan makan malam. Tidak ada hubungan dengan agenda Festival Film. Ohya, tidak lupa berfoto dengan peserta penyewa gerai –  para agen, pengedar, distributor – — dari beberapa negara, untuk bisa menjadi bahan akan adanya kerjasama-kerjasama.

Selebihnya piknik. Dari Cannes, dengan kereta Trans Express Regionaux cukup satu jam sudah bisa ke Monaco – Monte Carlo yang tidak kalah eksotiknya. Sudah berada di Prancis, sayang juga kalau tidak mampir ke Paris yang bisa ditempuh 5,5 jam dengan Kereta Cepat TGV.

Cannes adalah resor di pesisir Cote d’Azur, Prancis Tenggara, 700 kilometer dari Paris. Memang memikat sebagai citra tranformasi kebudayaan yang memberi ciri kepada Prancis atas berkemajuannya dalam apresiasi seni, gaya hidup yang elegan, paduan intelektualitas dan romantisme. Ketika Seskab Teddy berulang tahun beberapa waktu lalu – didampingi Presiden Prabowo — merayakannya juga di Prancis.

Festival Film Cannes punya sentuhan cita rasa seni lebih berbudaya dibanding Academy Awards Piala Oscar di Los Angeles, Amerika.  Apalagi bagi perempuan yang menyukai romantisme. Tahun ini konon delegasi Indonesia mengusung program Women in Cinema. Maka lihatlah,  para selebritas perempuan yang joget-joget itu, nampak lincah meliuk-liuk, yang lelaki pun berjogetnya  melambai gemulai.

Perempuan emansipatoris dan feminis, kiranya  lebih senang menyaksikan adegan  ketika Brigitte Macron mengkepret Emmnuel Marcon. Melebihi senangnya melihat Melanie Trump yangmangap ketawa-ketiwi mendampingi Donald Trump ngoceh dengan kepala miring-miring sembari akan mengembalikan kebudayaan Iran ke zaman batu. Dor! Ada suara pistol, dia kaget dan trauma. Entah di mana  refresing. Sebelumnya, ke Pulau Little Saint James kepunyaan Jeffrey Epstein.

Prancis mencanangkan kebudayaan dalam semboyan Liberté, Égalité, Fraternité – kebebasan, keadilan, kesetaraan. Amerika semboyannya Liberty.  Brigitte Macron kebetulan terasa lebih dominan, juga lebih tua, dibanding Emmanuel Macron. Sedangkan Melanie Trump, menurut comedian Jimmy Kimmel seperti expectant widow (janda hamil).

Cannes, Paris, Prancis – itu memberi imajinasi aduhai. Mendengarkan suara orang bercakap menggunakan Bahasa Prancis saja, desah dan pelintiran lidahnya sudah menyulut hasrat. Menurut novelis dan feminis Nh. Dini asal Semarang dan lama di Prancis, yang bisa mengalahkan keadiluhungan Bahasa Prancis adalah Bahasa Jawa. Melalui pengucapan dan kelengkapan diksi serta varian frasanya. Dalam Bahasa Jawa satu kata berlaku untuk satu pengertian.  Grammarnya mencerminkan tingkatan etis dan estetika.

Begitu romantisnya Prancis, para perindu cinta hafal istilah-istilah seperti French kiss, Mon amour, Le coup de fouder, L’amour Courtois.  Jawa punya tembang  Asmaradana.

Jadi maklumilah jika menyaksikan joget-joget para duta budaya kita di Festival Film Cannes. Jangan pura-pura juga tidak paham, ketika di antara kita tertarik menjadi pejabat film atau pengurus lembaga perfilman seperti BPI, kan memang bayangannya untuk menambah portofolio atas nama pemajuan kebudayaan: Ke Festival Cannes, Berlin, Busan, Sanghai, Hong Kong. Kalau longgar anggaran bolehlah ditambah ke Los Angeles, atau Melbourne, atau nostalgia di Leiden. Portofolio lainnya, tentu agar lebih punya akses dalam ikut kecipratan kue program perfilman, misalnya Indosiana – sekarang Indonesiaraya –  setidaknya untuk perusahaan miliknya dan asosiasi tempatnya menjalankan usaha dan kegiatan perfilman.

Warga masyarakat perfilman yang nasibnya di pinggiran, ya melihat semua itu sebagai romantisme  elite, kebangsawanan menara gading, tidak mempunyai sensitivas terhadap realitas sosial perfilman. Entah apa pula teman-teman tidak bosan,  menyuarakan film sebagai karya cipta seni budaya, bukan sekadar dagangan,  ekonomi kreatif, industri komersial.

Festival Film Cannes adalah kemasan kegiatan perfilman – peristiwa budaya — yang tranformatif ke dalam kebudayaan kontemporer. Menjadi ikon pemajuan kebudayaan modern  dan global. Jika ternyata kita selama bertahun-tahun nggak juga dapat Palme d’Cor -– seperti mimpi kapan-kapan ketiban pulung Piala Oscar – setidaknya ada capaian bahwa ini lho kami delegasi — mewakili masyarakat perfilman Indonesia di ajang festival internasional. Pamer bukan  kepada dunia, melainkan kepada saudara-saudara sebangsa dan setanah air.

Dalam psikologi kebudayaan dan sosiologi pascakolonialisme, perilaku elite di panggung internasional —  seperti eksploitasi joget-joget dan fantasi karpet merah Festival Cannes itu, adalah mengasingkan realitas bangsanya sendiri, sebagai mekanisme kompensasi psikologis yang kompleks.  Frantz Fanon dalam bukunya Black Skin, White Masks menguraikan, masyarakat yang terjajah sekian lama mengalami trauma psikologis kolektif berupa internalized racism atau internalized oppression, merekamengadopsi cara pandang penjajah; dimulai dengan kebudayaan diri sendiri yang inferior, kebudayaan penjajah superior. Ketika setelah merdeka ternyata tidak mampu menyamai kebudayaan bangsa penjajah, maka para elite pascakolonial mencari jalan pintas mimikri, menggunakan karpet merahnya untuk joget-joget gemoy, berharap diakui setara — oleh kelas sosial global. Namun jika global nggak nganggep, nggak ngrewes, ya mesti ada pengakuan bahwa elite tidak sama dengan orang-orang sebangsa dan setanah air,  yang kalau belanja pakai rupiah, bukannya  menggunakan dolar itu.

Karena sifatnya pertunjukan, perlu pembanding. Social Comparison. Elitemesti melestarikan adanya bangsa sendiri yang sebagian besar yang tetap terjajah. DalamTeori Perbandingan Sosial Leon Festinger dan Teori Identitas Sosial Henri Tajfel, untuk membangun rasa unggul (sense of superiority) suatu  kelompok,  membutuhkan kelompok pembanding yang posisinya lebih rendah.  Elite di panggung membutuhkan massa domestik untuk cermin pembuktian. Maka massa domestik sengaja diposisikan sebagai penonton yang inferior agar validasi kelas sosial elite tetap terjaga.

Ketika film dan perfilman tidak lagi dihayati sebagai sistem nilai – dalam kebudayaan — akan mengalami komodifikasi – pembendaan – berubah menjadi berhala -berhala —  spectacle. Penampilan visual menggantikan substansi pencapaian.

Berjoget-joget di Cannes itu, seperti adegan menari-nari di depan berhala – bahkan di saat Palme d’Or -nya tidak kelihatan. Itu merupakan pencitraan narsistik kolektif.  Secara psikologis,  bisa berfungsi sebagai obat bius sosial. Memberi ilusi kemajuan dan kehebatan kepada masyarakat di dalam negeri, padahal secara struktural merupakan paradoks di dalam ekosistem perfilman, apalagi pemajuan kebudayaan. (Akhlis Suryapati, 22 Mei 2026)

Tinggalkan komentar

Salam

Selamat datang dan senang sekali Anda berkunjung ke sini, dalam situs yang menyampaikan pikiran dan pandangan secara bebas merdeka berdasarkan hati nurani. Menjaga akal sehat, merawat ingatan, membaca zaman dalam perspektif kebudayaan.