-
Continue reading →: ‘Mise en scene’ Episode Agustusan
Episode kemeriahan bulan kemerdekaan Agustus, diakhiri dengan tragedy ending: Kematian, kobaran api, penjarahan, chaos, anarkisme. Tentu kita menunggu episode berikutnya, untuk bulan September, yang di Indonesia sangat populer sebagai bulan Gerakan G30S/PKI. Jika ini adalah film, kita mengenal mise en scene. Yaitu ketika semua elemen visual ditempatkan dalam frame (bingkai)…
-
Continue reading →: Ante Mortem Kongres ‘Rumah Lapuk’ PWI
Kongres Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) berlangsung 29 – 30 Agustus di Bekasi. Agenda utamanya, memilih Ketua Umum. Ini seperti memperebutkan warisan rumah tua bersejarah yang lapuk, saat banyak penghuninya sudah ngelayap kesana kemari; ada yang keterusan di ruang rekreasi politik, ada yang ngontrak di tempat lain untuk berteduh, ada yang…
-
Continue reading →: Film-Film, Teater AIB, Reformasi Kentut
BANYAK film – juga sastra, teater, dan karya seni lainnya – mengulang tema pahit The Revolution Betrayed atau Revolusi yang Dikhianati (Leon Trotsky, 1936). Kasus seperti itu relevan dari zaman ke zaman – termasuk untuk Indonesia. Bukan hanya merujuk pada pergolakan sosialis Uni Soviet setelah kematian Lenin (1924) yang dikorupsi…
-
Continue reading →: Budaya Predatoris Dewan Perwakilan Rakus
Gaji dan tunjangan mencapai Rp100 juta per bulan, ditambah fasilitas lain senilai puluhan juta, belum mobil dinas, perjalanan dinas—pokoknya semua serba dinas, kecuali kerendahan hati. Maka anggota DPR menari-nari gaya komedi Opera Van Java pelawak Eko Patrio. Ini bukan hiburan untuk penonton televisi, tetapi ekspresi dari budaya jumawa dan rakus…
-
Continue reading →: Memori Raya dengan Cacing-Cacing
“Kupersembahkan tubuhku untuk program makan bergizi gratis bagi cacing-cacing.” Begitu kira-kira imajinasi kita jika ada memori ditulis Raya. “Cacing-cacing di tubuhku, telah membebaskan diriku dari kehidupan tidak berbudaya dan tidak beradab, sebelum aku mencapai masa satu periode jabatan presiden di tanah air – negeri tempat aku dilahirkan.” Kemarin viral dari…
-
Continue reading →: Budaya Palak dalam Kapitalisasi Royalti
Viral foto struk pembayaran restoran, mencantumkan biaya Rp 29.000 atas royalti lagu yang diperdengarkan di tempat itu. Ini unggahan media sosial, sumbernya dari LinkedIn. Walau kemudian diklarifikasi hanya sebagai ilustrasi, cukup untuk menyingkap wajah kapitalisasi dalam nomerasi karya cipta seni budaya – di antaranya musik. Gampangnya mengenai royalti. Pada garis…
-
Continue reading →: Guru Beban Negara, Rakyat Beban Negara
Guru dianggap beban negara. Kiranya, murid-muridnya juga. Negara sempoyongan karena harus menanggung subsidi pendidikan sampai makan siang bergizi. Kasihan Menteri Keuangan Sri Mulyani, yang dulu menangis di depan kamera televisi (1998) saat negeri ini terperangkap utang pada IMF. Dua setengah dekade kemudian, air mata itu berubah jadi senyum: “IMF dan…
-
Continue reading →: Mau Lihat Keadilan, Pergi ke Rumah Pelacuran
Kalau engkau ingin melihat perselingkuhan, datanglah ke pengadilan. Kalau engkau ingin melihat keadilan, pergilah ke rumah pelacuran. Demikian diucapkan Richard Gere (yang pernah nginep di hotel Amanjiwo Borobudur itu), dalam film Primal Fear (1996). Film arahan sutradara Gregory Hoblit, berdasar novel 1993 karya William Diehl. Ini bukan film kayak yang…
-
Continue reading →: Ijasah dan Ujian Budaya dalam Demokrasi Pincang
Diawali dari jurnal cetak, berlanjut ke ruang sidang, merajut linimasa media sosial: Kisah ijazah Presiden Jokowi bertransformasi dari selembar kertas akademik menjadi simbol krisis kepercayaan bangsa. Sebuah komedi humor dalam tragedi kebangsaan, dunia tertawa getir di tengah demokrasi yang pincang. Drama ini bermula dari buku jurnalistik Lelaki dengan Ijazah Palsu…
-
Continue reading →: Memori Budaya: Pati yang Tak Pernah Menunduk
SEBUAH pesan dari Pati sudah disampaikan. Para elite petualang, oligarki, politikus, ormas-ormas, silahkan bersolek untuk menunggangi atau mengganjal, aparat bersenjata silahkan mengguyurkan gas airmata. Sebuah pesan telah disampaikan: Bukan hanya kepada Penguasa di Pati, Bupati Sudewo, melainkan juga ke seantero negeri. Sebuah spanduk bertuliskan huru-huruf besar: “Pak Prabowo, Pecat Bupati…
