Indonesia histeris. Akibat stres, frustrasi, lelah, kesel, marah, hilang harapan. Ledakan dalam wujud teriakan amuk ekspresi, hilang kontrol terhadap kalkulasi etik, akal sehat, dan nalar.
Di Tegal, seorang Suheni teriak-teriak. Mengumbar aib. “Sudah “dikeloni” Pak Lurah, tetap saja warung dibongkar.”
Kemudian seantero negeri dalam histeris kolektif, meradang beragam oktav dan volume. Pemicunya, warung sebagai sumber napas ekonominya dibongkar Satpol PP.
Suheni meronta-ronta menjadi perempuan kuat tiba-tiba, ledakan emosinya mengguncang kebisuan skandal relasi tahta, harta, sahwat. Kemarin foto Suheni mencium tantang Pak Lurah dalam adegan roman klarifikasi, menjadi ending sementara. Seperti cerita orang kesambet, waras setelah disembur air putih.
Di Padang Lawas Utara, 24 Februari lalu viral. Ibu pedagang takjil puasa menabur dagangannya ke jalanan. Dia histeris karena dilarang berdagang oleh aparat-aparat Satpol PP. Sambil melempar-lempar dagangannya, sang Ibu berteriak-teriak: “Puas, kalian? Puas, kalian?” kepada aparat negara yang berseragam.
Di London, Dwi Sasetyaningtyas— alumni LPDP — melempar granat histeria ke jagat maya: “Cukup saya saja jadi WNI, anak saya jangan.” Sontak, histeris massal menggema dengan nada lebih heroik daripada nyanyian Indonesia Raya . Kebangsaan dan nasionalisme menjadi konsep usang yang didengungkan ulang saat tersentak dari mimpi buruk. Kewarganegaraan adalah kontrak utang-piutang.
Bukankah Menteri Utama Luhut Binsar Pandjaitan dalam rezim Jokowi, pernah meminta agar pihak yang tiodak menyukai dan mengkritik pemerintah untuk keluar dari Indonesia. “Jangan kritik semua jelek, pindah saja kau dari Indonesia sini.”
Bukankah Menteri Keuangan Sri Mulyani di rezim Jokowi mengatakan, masyarakat yang menolak membayar pajak sebaiknya tidak tinggal di Indonesia. Pernyataan ini disampaikan pada Juli 2022 sebagai respon atas tagar #StopBayarPajak.
Ruang kekecewaan, tak punya tempat berarti tanpa ruang kekecewaan pribadi. Cinta tanah air seperti jerat, daripada sebuah kasih sayang dan perlindungan. Melarat sampai mampus pun, jangan cerai dari Indonesia. Soal pembungkamannya, tergantung selera penguasa.
Di Yogyakarta, Tiyo Ardianto, mahasiswa UGM, berteriak “bodoh” kepada Prabowo. Kepala Badan Gizi Nasional yang ahli serangga, histeris dengan umpatan “monyet”. Selanjutnya muncul ancaman teror. Mensesneg Prasetyo memberikan justifikasi yang terasa seperti dagelan kuliah moral: : “Makanya kalau mengkritik pakai etika dan adab.”
Bising teriakan tentang Makan Bergizi Gratis (MBG) menambah daftar situasi histeria. Ibu-Ibu menangis karena anak-anak keracunan, guru-guru meratap merinci daftar menu, orang-orang saling misuh, Menteri Agama sambil menikmati jet pribadi menawarkan agar dana zakat membiayai MBG. Bulan Ramadhan ini list diedarkan hingga ke pelosok-pelosok RT, agar warga menyetorkan sawerannya ke pemerintah.
Sepertinya histeria bukan hanya terjadi di kalangan warga biasa. Mantan Presiden Jokowi histeris teriak-teriak akan “turun gunung” hingga ke kecamatan-kecamatan, tak peduli kulitnya sampai mengelupas, rambutnya mbrodoli, jalannya oleng. Penerus dan muridnya, Presiden Prabowo, berdiri di mimbar berteriak-teriak histeris “Hidup Jokowi, Hidup Jokowi.” Di waktu yang lain ia bercerita kepada dunia, tentang rakyat yang disebut ribuan kali dalam pidato:
“Bangsa Indonesia adalah bangsa paling bahagia di dunia.”
Bank Duna mencatat 170 juta orang miskin, dengan pengangguran merajalela, lebih dari separuh warga merasa cemas. Perempuan mudah marah, remaja mengalami gangguan mental, masalah finansial mencekik sehari-hari.
Saat yang sama, penguasa terus menari-nari, pemimpin semakin gemoi, dari polisi dan Satpol PP bertindak ala Kompeni menagih upeti. Presiden bersekutu dengan penjajah. Petenteng-petenteng, pidato gaya Bung Karno, namun isinya omon-omon — kontradiksi dengan perbuatannya, paradoks dengan tindakannya. Bagaimana tidak membuat stres, lalu orang menjadi histeris.
Bangsa ini nampak seperti pasien yang menderita kelelahan luar biasa. Ketika kelelahan menjadi kronis dan tidak menemukan ruang untuk istirahat, masuklah ke fase “histeria” – berteriak dalam sorak-sorai, apapun bunyinya. Jangan-jangan kita berada di negeri seperti digambarkan dalam Ghost Fleet: A Novel of the Next World War karangan Peter Singer dan August Cole yang pernah dikutip Prabowo, bahwa Indonesia sudah bubar pada tahun 2030, empat tahun lagi. Menjelang bubar itu, sebuah simfoni histeria mengayun-ngayun omon-omong di luar kontrol diri sendiri.
Histeria terjadi karena tekanan stres akut. Sistem saraf kolektif mengalami overload. Tekanan luar biasa, membuat putus asa kronis. Dalam keadaan seperti itu, sangat rentan untuk kesambet. Kerasukan jin, genderuwo, iblis, kuntilanak. Bisa pula disusupi suara wali, bidadari, malaikat.
Penjelasan ilmiahnya, histeria tidak lagi sebagai penyakit fisik “uterus yang mengembara”, melainkan sebagai gangguan psikologis yang nyata dan kompleks. Histeria umumnya dikategorikan sebagai bentuk gangguan disosiatif atau gangguan somatik (konversi), di mana stres emosional yang ekstrem bermanifestasi menjadi gejala fisik atau perilaku yang tidak terkendali. Menjerit, tertawa histeris, menangis tanpa kendali, atau amukan tiba-tiba. Setelah fase ini, jika frustrasi terus berlangsung. Akan menciptakan Kelumpuhan anggota tubuh, kebutaan, tuli, atau ketidakmampuan bicara. Apa kira-kira bangsa ini menuju kesana? (Jakarta, 28 Februari 2026)

Tinggalkan komentar