Episode kemeriahan bulan kemerdekaan Agustus, diakhiri dengan tragedy ending: Kematian, kobaran api, penjarahan, chaos, anarkisme. Tentu kita menunggu episode berikutnya, untuk bulan September, yang di Indonesia sangat populer sebagai bulan Gerakan G30S/PKI.
Jika ini adalah film, kita mengenal mise en scene. Yaitu ketika semua elemen visual ditempatkan dalam frame (bingkai) – yang dipantulkan dari proyektor setelah direkam oleh kamera. Dalam Bahasa Inggris sering disebut placing on stage atau what is put into the scene; Berbagai elemen teknis dari latar belakang (setting), properti, pencahayaan, kostum, tata rias, akting para aktor, dan lainnya, dihimpun dalam kesatuan tayangan layar. Tentu untuk menciptakan suasana, makna, dan narasi visual yang diharapkan menyihir penonton. Istilah mise en scene awalnya digunakan dalam teater, kemudian diterapkan secara luas dalam film.
Saya tidak sedang menulis resensi atau kritik film. Ketika terjaga dari tidur tak nyenyak, ada ketidakmampuan untuk ‘sebodo amat’ menyaksikan peristiwa Jumat kemarin (29 Agustus) serta rangkaian peristiwa sebelumnya. Semenjak berkibarnya One Piece disela-sela taburan merah putih, dari jargon ‘Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju’ , ujungnya rakyat dicekik pajak, wakilnya di parlemen joget-joget, anak muda pekerja ojek online dilindas mobil polisi, sampai kepada kobaran api yang dimulai dari Pati, Bone, Makassar, Yogyakarta, Solo, Surabaya, sampai Jakarta. Gedung terbakar, motor dan mobil hangus, ban-ban meleleh dan berasap, molotov berhamburan. Gas airmata dan meriam air melengkapi effect visual sinematografi.
Nggak lengah pula, ada selipan adegan yang dalam film disebut cameo. Menampilkan adegan dengan bintang-bintang tamu populer: Tom Lembong, Hasto Kristiyanto, Gus Nur, Bambang Tri, Jokowi – Gibran, Purnawirawan TNI, Silvester Stallone – eh — Silfester Matutina, Yaqut Cholil, Noel Ebenezer, Ahmad ‘ ‘grazy rich’ Sahroni, Eko Patrio, Nafa Urbah, dan buuaaanyak cameo-cameo bermunculan.
Cameo bisa disebut sebagai penampilan singkat dalam adegan — seseorang yang terkenal dalam karya seni pertunjukan seperti film, serial TV, atau musik. Juga bisa merujuk pada pengertian sebuah ukiran relief pada batu atau cangkang berlapis yang kontras. Atau platform aplikasi yang memungkinkan orang memesan video personal dari selebritas. Dalam konteks film, cameo adalah peran dan adegan kecil yang seringkali menjadi kejutan sekaligus hiburan.
Kembali ke peristiwa yang tidak menyenyakkan tidur itu. Jika kerusuhan hari Jumat adalah dalam film genre drama, maka adegannya bisa dianggap klimaks. Namun jika dalam genre action, bisa menjadi adegan pembuka bagi kisah pertarungan protagonis melawan antagonis yang berlarut-larut.
Sayangnya, ini bukan film, bukan teater. Ini Indonesia nyata. Genrenya juga sangat terkombinasi: Drama, komedi, action, horor, biopic, suspense, thriller, crime, roman, juga musikal ala film India dengan adegan joget-joget massal anggota DPR-RI.
Driver ojek online bernama Affan Kurniawan, yang tewas dilindas kendaraan Brimob, tidak bisa bangkit kembali ketika sutradara bilang ‘cut’, lalu esoknya menerima pelunasan honor atau ‘bonus demografi’ agar bisa merasakan fatamorgana Indonesia Emas. Affan Kurniawan tidak bisa disalami atau foto bareng dengan Presiden yang melayat, mejeng gagah dengan Kapolda yang berdoa di atas nisan, selfie dengan Gubernur yang berakting ‘mewek’, atau juga kelihatan ‘khusuk’ mengamini doa Anies Baswedan di pemakaman. Bahkan keluarganya yang ditaburi cahaya lampu kamera, menjadi serba kagok dengan semuanya itu. Solidaritas dari ribuan tukang ojek juga tak cukup bisa menghentikan tangis.
Penguasa menyuruh masyarakat tetap tenang. Katanya, negara tidak boleh dibiarkan pecah karena provokasi.Tenang bagaimana? Tenang seperti dirimu yang gemoy ketika rakyat tercekik pajak? Tenang seperti mereka yang menelan triliunan harta isi bumi, laut, dan udara? Tenang seperti yang naik jet pribadi, makan roti mahal, petenteng-petenteng seraya memenjarakan orang?
Tenang bagaimana? Seperti bocah Sukabumi yang mati kemasukan cacing karena hidup di kandang ayam? Tenang seperti Affan Kurniawan yang dibungkus kain kafan? Atau tenang seperti dinasti peringas-peringis yang dipuja-puji melalui keberlanjutan?
Dari Pati, Bone, Citrebon, lalu Makassar, Yogyakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan beberapa daerah lainnya. Chaos berlangsung. Anarkisme tak terhindarkan. Dari kemarin sampai semalaman, Jakarta semakin runyam. Jalanan diblokir, gedung DPR dikepung, pagar dijebol, bangunan dibakar, mobil-mobil dihanguskan, penjarahan dimulai. Anak-anak sekolah dicekam panik, pegawai-pegawai di-work from home– kan.
Adegan tahun 1998 seperti direborn. Remark. Saya ingat, pada hari itu, 13 Mei, saya sedang piket sebagai redaktur koran sore Harian Terbit – menghimpun berita masuk dari berbagai wartawan di lapangan, kemudian merangkum dan menurunkan headline dengan judul ‘Jakarta Membara’. Kiranya itu menjadi awal berita-berita selanjutnya di media cetak maupun media televisi tentang tragedi 1998.
Kala itu saya juga keluyuran ke jalan-jalan, dalam kerumunan orang menyikapi penembakan mahasiswa Trisaksi, nimbrung di antara masaa yang menduduki Gedung DPR/MPR, blusukan di Hotel Mandarin – poskonya wartawan asing dan tempat jumpa persnya tokoh-tokoh. Saya sempat ikut salawatan bersama kelompok Hamas – bukan pasukan di Gaza–, melainkan singkatan dari Himpunan Masyarakat Salawat –yang dimentori budayawan Emha Ainun Nadjib. Bersama Kiai Kanjeng, tahun-tahun itu saya produseri Hamas membuat album rekaman Menyorong Rembulan. Dalam satu kesempatan salawatan di kampung para korban kebakaran Mall Klender, sempat bertemu juga dengan si Forkot (Forum Kota) Ardian Napitupulu yang sekarang sering saya lihat di televisi sebagai elite kekuasaan.
Tetapi saya tentunya bukan wartawan reformasi, bukan wartawan politik, bukan pula bagian dari Angkatan ’98. Bahkan untuk menyebut wartawan apa pun perlu sambil minder karena tidak punya sertipikat kompetensi kewartawanan hasil UKW. Entah sebagai apa kala itu, tatkala beberapa hari sebelumnya (selama dua hari) di bawah kepungan tentara yang siaga, saya bersama promotor Sofyan Ali menyelenggarakan pergelaran Anugerah PWI Musik di Istora Senayan – yang kemudian disiarkan SCTV. Menampilkan 200 Penyanyi Cilik Rekaman — yang di antaranya ya menjadi Agnes Monica M0, Joshua, Trio Wek-Wek, dan entah siapa lagi itu, dengan kawalan bapak ibunya, kakek-neneknya, saudara, atau baby-sitter merek. Kegiatan lainnya kala itu melakukan syuting kesana-sini untuk keperluan tayangan infotainment atau program televisi lainnya.
Kemarin (Jumat, 29 Agustus 2025) ketika Jakarta mencekam karena isu kerusuhan yang bernuansa reborn ala 1998, walaupun keliling keluyuran di jalanan meliputi Jakarta Timur, Jakarta Pusat, hingga Jakarta Selatan, urusan saya masih kayak dulu-dulu juga. Memberi arahan kepada seorang teman Kine Klub yang ‘nata-nata kursi dan kabel ’ acara Jakarta Film Week di Pusat Kesenian Taman Ismail Marzuki (TIM), lalu mengantar dua mahasiswa Kine Klub yang ikut konperensi pers World Cinema Week di CGV Pacific Place, selanjutnya saya sendiri nebeng makan enak dan omon-omon dalam acara Dialog Kolaborasi Penyelenggara Festival Film Indonesia dengan Festival Film Internasional Shanghai (SIFF), Belt&Road Film Week (BRIFF), Festival Film Internasional Malaysia (MIFFest), di Hotel Grand Melia.
Terpikir juga malamnya menikmati long week end dengan nonton film Indonesia, siapa tahu tiketnya bisa saya posting ke WA Group atau Facebook guna memberi tahu khalayak bahwa ‘Aku Cinta Indonesia’. Tetapi, hanya inilah akhirnya yang bisa saya ceritakan: Indonesia sedang dalam mise en scene dan tampilan cameo-cameo di akhir bulan peringatan kemerdekaan ke 80.***

Tinggalkan komentar